Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan
Obesitas berisiko terhadap kesehatan, beberapa penyakit yang sanggup berakar dari obesitas, diantaranya : Penyakit Jantung Koroner
Jika seseorang mengalami obesitas, maka akumulasi lemak pada tubuh orang tersebut meningkat. Akumulasi lemak ini sanggup disimpan di bawah kulit, omentum, jaringan pembuluh darah dan jaringan lemak lain. Bahayanya ialah kalau lemak tersimpan pada lapisan pembuluh darah arteri , lantaran dalam tubuh arteri bertugas menyuplai darah bagi organ vital, ibarat otak dan jantung. Lemak yang menumpuk pada pembuluh darah sanggup menurunkan fungsi pembuluh tersebut, bahkan menyumbatnya. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana sanggup demikian? Pada prinsipnya, timbunan lemak akan memicu terbentuknya aterosklerosis, penebalan pembuluh darah tanggapan akumulasi senyawa lemak ibarat kolesterol dan trigliserida, khususnya pada arteri koronaria, arteri yang bertugas membawa darah segar ke otot-otot jantung. Asalnya, efek lemak ini tidak bersifat langsung, tetapi melalui proses berantai yang kompleks. Secara singkat, lemak yang terakumulasi pada pembuluh darah akan menimbulkan peradangan, yang pada kesudahannya membentuk tonjolan plak yang mempersempit diameter dalam pembuluh darah. Pada sindrom koroner akut, biasanya telah terjadi pecahnya plak tersebut yang nantinya sanggup menyumbat pada arteri koroner. Lemak akan memicu terbentuknya aterosklerosis, penebalan pembuluh darah tanggapan akumulasi senyawa lemak ibarat kolesterol dan trigliserida, khususnya pada arteri koronaria, arteri yang bertugas membawa darah segar ke otot jantung Gejala penyakit jantung koroner yang disebut dengan sindrom koroner akut (“serangan jantung”) timbul ketika terjadi peningkatan kebutuhan oksigen jantung tanpa disertai pasokan yang memadai, atau penurunan suplai oksigen pada jantung. Peningkatan kebutuhan oksigen ini terjadi pada ketika jantung melaksanakan kerja berat contohnya pada ketika berolahraga berat. Sedangkan penurunan suplai oksigen disebabkan lantaran adanya pengerutan atau penyumbatan arteri koroner. Apabila kebutuhan oksigen jantung tidak terpenuhi dalam jangka waktu tertentu, maka otot jantung akan mengalami kekurangan oksigen dalam darah (iskemia), yang usang kelamaan akan diikuti dengan matinya sel otot jantung (nekrosis). Kondisi iskemia dan nekrosis inilah yang menimbulkan rasa nyeri yang andal dan henti jantung pada penderita penyakit jantung koroner.
Resistensi Insulin dan Diabetes Melitus type 2
Obesitas sanggup memicu intoleransi glukosa dan resistensi hormon insulin, yang sanggup berujung pada diabetes melitus tipe 2. Kondisi insulin resisten sangat berkaitan bersahabat dengan timbunan dari lemak dalam perut. Ada beberapa faktor utamanya, ibarat asam lemak bebas yang naik tanggapan kenaikan massa lemak tubuh, yang berdampak pada penurunan sensitifitas insulin, adanya akumulasi lipid dalam sel, dan adanya beberapa peptide yang sanggup diproduksi oleh jaringan lemak yang sanggup memodifikasi fungsi dan agresi dari insulin. Disisi lain, seseorang dengan kondisi hyperinsulinemia dan insulin yang resisten, sanggup menimbulkan kenaikan berat tubuh dan mencegah dari kehilangan berat badan. Obesitas sanggup memicu intoleransi glukosa dan resistensi hormon insulin, yang sanggup berujung pada diabetes melitus tipe 2. Kondisi insulin resisten sangat berkaitan bersahabat dengan timbunan dari lemak dalam perut Fakta lain menunjukkan bahwa obesitas memicu peradangan mikro dalam tubuh yang terjadi secara menyeluruh dan terus menerus. Mekanisme peradangan tersebut sanggup berkaitan bersahabat dengan terjadinya respon stress yang berujung pada resistensi fungsi insulin. Dari sini, kita sanggup mengambil faedah yaitu, obesitas, yakni salah satu faktor resiko utama diabetes dan memang faktanya 80% pada pasien diabetes type 2, mengalami obesitas. Adanya olahraga dan pengurangan berat badan, terbukti secara ilmiah sanggup meningkatkan sensitifitas dari insulin dan memperbaiki kontrol gula darah pada pasien diabetes.
Penyakit reproduksi
Ternyata, terdapat fakta menarik perihal obesitas yang sanggup menghipnotis dari sistem reproduksi pada insan baik pria dan perempuan. Seorang pria yang mengalami penurunan fungsi organ dan hormon reproduksinya, sangat berkaitan bersahabat dengan naiknya jaringan lemak pada dirinya. Biasanya disertai dengan membesarnya tempat sekitar otot dada, sehingga payudaranya tampak membesar yang disebut dengan ginekomastia. Pada perempuan sendiri, obesitas sangat berkaitan bersahabat dengan kecacatan siklus menstruasi. Fakta menunjukkan bahwa perempuan dengan oligomenorrhea yang obese maka cenderung mengalami sindrom ovarian polikistik. Selain itu, tingginya jumlah perubahan androstenedion menjadi estrogen -suatu proses hormonal yang diperantarai oleh sel-sel lemak-, sanggup menaikkan kejadian kanker rahim pada perempuan postmenopause dengan obesitas. Seorang pria yang mengalami penurunan fungsi organ dan hormon reproduksinya, sangat berkaitan bersahabat dengan naiknya jaringan lemak pada dirinya
Penyakit pulmonal
Obesitas sangat berkaitan dengan sejumlah gangguan pada paru, hal ini terjadi lantaran berkaitan dengan pengurangan elastisitas kembang-kempis dari dinding dada, sehingga fungsi pernafasan akan turun. Akibatnya terjadi naiknya sisa udara dalam paru dan naiknya jumlah cadangan udara dalam dada sehabis seseorang menghembuskan nafas. Beberapa orang dengan obesitas yang berat mengeluhkan kesulitan tidur, henti nafas ketika tidur (apnea) dan yang disebut dengan sindrom hipoventilasi, yang ditandai dengan kondisi kekurangan oksigen dan kelebihan karbondioksida. Apnea pada ketika tidur juga sanggup terjadi secara sentral, yakni di otak, yang nantinya sanggup memicu hipertensi.
Penyakit hepatobilier
Obesitas nantinya sanggup menimbulkan tertimbunnya lemak pada liver yang tidak dipicu oleh alkohol (non alcoholic fatty liver disease (NAFLD)). Pada kondisi ini, NAFLD sanggup mengalami perubahan menjadi peradangan liver yang disertai perlemakan yang lebih luas, yang berpeluang bermetamorfosis pengerasan liver (sirosis) dan kanker liver. Disisi lain, obesitas akan memicu sekresi kolesterol berlebih dalam cairan empedu, dan dengan ini sanggup menjadi faktor resiko terbentuknya kerikil empedu. Selain itu, kalau disertai peradangan maka sanggup menimbulkan radang kantung empedu. Diantara gejalanya yakni rasa nyeri di tempat perut serpihan atas sehabis mengkonsumsi makanan berlemak. Disisi lain, obesitas akan memicu sekresi kolesterol berlebih dalam cairan empedu, dan dengan ini sanggup menjadi faktor resiko terbentuknya kerikil empedu.
Kanker
Obesitas pada pria sangat berkaitan dengan tingkat maut disebabkan kanker, terutama kanker kerongkongan, usus besar, rektum, pankreas, liver dan prostat. Sedangkan pada perempuan, obesitas sangat besar lengan berkuasa pada terjadinya kanker kantung empedu, kanker payudara, dinding rahim, serviks dan kanker ovarium.
Penyakit tulang, sendi dan penyakit kulit
Ternyata pada manusia, obesitas juga besar lengan berkuasa pada penyakit degeneratif, ibarat osteoarthritis (peradangan sendi). Adanya kenaikan beban tubuh, ditambah peradangan pada sendi, sanggup menimbulkan kerusakan pada jaringan tulang rawan sendi, terutama sendi yang dipakai untuk menopang berat tubuh ibarat sendi lutut. Selain itu obesitas juga sanggup besar lengan berkuasa pada kulit, ibarat sanggup terjadi penyakit acanthosis nigrican, yang bermanifestasi pada menggelapnya kulit di serpihan lipatan dan lekukan tubuh, ibarat ketiak, selangkangan, dan leher. Kulit di serpihan tersebut sanggup jadi menebal dan berbau tidak sedap. Adanya lipid pada lipatan kulit ini nantinya akan sanggup menjadi resiko dari benjol jamur, contohnya benjol jamur kandida, dengan banyak sekali derajat infeksi.
0 Response to "Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan"
Post a Comment